Kudus, Suara Terkini Muria- Menginjakkan kaki di terakhir tangga gedung Musem Kretek saat memasukinya. Seketika mata tertuju pada gambaran penuh akan foto yang dipasang secara rapi. Rasanya tertarik pada gambaran yang terletak di ujung, bukan sisi kanan dan kiri.
Warnanya merah menyala, seperti gambaran kobaran api. Lantas memutuskan berjalan ke sana dan menghampirinya. Ternyata semua pasal masa lalu yang dipaksa ditarik ulang, bagaimana pribumi dan bangsawan bersaing mendirikan pabrik rokok hingga ada beberapa yang hingga kini bertahan dan mampu menguasai jagat Kudus sebagai pusat produksi rokok.
Ada yang menyetil di bagian foto kanan bawah nomor tiga. Warna gambarnya hitam putih kemungkinan sebab saat itu kamera berwana belum ditemukan. Sepertinya beliau seorang muslim sebab aku bisa menilainya dengan peci yang berada di kepalanya. Raut wajahnya tidak tegas, sama seperti bapak-bapak pada umumnya. Foto tersebut jelas ada namanya dan pasti ada kontribusi yang memang wajib dikenang di Museum Kretek.
Sebelum ditarik fokus pada gambar beliau, suasana saat memasuki Gedung Museum Kretek sangat sunyi, sepi dan berbau debu. Semua tertata rapi setelah sebelumnya aku pernah ke sini setengah tahun lalu. Luarnya memang bersih, tapi ada bagian dalam yang kotor, itu memang hal wajar sebab belum ada jadwal pasti untuk membersihkan dalamya.
Puas berputar mengelilingi seisi gedung Museum Kretek, alhasil para tokoh-tokoh tersebut kembali menarik perhatian. Sama seperti tadi fokusku ternyata berakhir pada gambar hitam putih tadi. Namanya H.A. Ma'ruf seorang pribumi pecinta rokok, untuk itu ia bersusah payah membangun pabrik miliknya pada tahun 1937 sampai berangsur hilang sebab tak mampu bertahan. Tepat tahun 2000-an jatuhnya pabrik rokok milik Ma'ruf dipaksa mundur oleh keuangan.
Berbekal produksi rokok krobot yang saat itu menjadi primadona rokok di Kudus, Djambu Bol dapat berjajar dengan perusahaan rokok lainnya. Beribu sayang dilontarkan, bangunan fisik yang kini terletak tak jauh dari rambu bundaran Ngembal kini sudah ditumbuhi banyak rerumputan dulu pernah dipukul kuat pada zaman Jepang mendatangi Nusantara.
Mencoba peruntukkan layaknya pabrik yang sampai kini bertahan yakni Djarum dan Sukun, Ma'ruf Pemilik dari pabrik rokok Djambu Bol tidak mampu bersaing secara finansial. Tabungannya habis dan ditambah Jepang menguasai Bumi Nusantara.
Diputar ulang pada zaman penjajah Jepang, Dajmbu Bol bukan hanya salah satu perusahaan rokok yang tidak dapat bertahan. Ada juga Tjap Bal Tiga, perusahaan rokok paling besar saat itu pun gulung tikar sebab masa sulit waktu itu. Begitu Djambu Bol menyusul dengan menghentikan produksinya pada tahun 1942 sebab kedatangan Jepang.
Tapi tidak putus pada masa itu, setelah kemerdekaan Indonesia, perusahaan rokok yang awalnya ambruk kembali menggeliat layaknya ulat untuk memperjuangkan karirnya. Seperti Djambu Bol turut bangkit pada tahun 1942. Alurnya bagus hingga masa itu Djambu Bol berkarir sampai Sumatera terutama Lampung dan fokus pada penjualan rokok kretek.
Namun di masa yang sama perusahaan rokok lainnya yang baru muncul seperti Djarum (1951) dan Sukun (1950) ikut hadir dan membawa persaingan baru. Bahkan kedua perusahaan tersebut telah merenggut pasar Kudus dan menjadi perusahaan terbesar di Indonesia masa mendatang. Sementara Djambu Bol talak oleh kedua perusahaan rokok.
Lance Castles menyebutkan dalam bukunya “Religion, Politics, and Economic Behavior in Java: The Kudu Cigarette Industry” bahwa faktor penting penyebab kegagalan pengusaha lokal di industri ini adalah manajemen. Inilah mengapa pabrikan milik pengusaha Cina lebih sukses daripada pengusaha lokal.
Meski begitu, Djambu Bol berusaha bertahan hingga berhenti produksi pada 2009. Sampai saat ini Djambu Bol masih memiliki kasus ketenagakerjaan akibat tidak dibayarkannya gaji karyawan. Meski begitu, nama perusahaan tetap menjadi acuan bagi mereka yang paham industri rokok kretek, dan kudu pada khususnya.

Komentar
Posting Komentar