![]() |
| Abdul Ghoni sedang mencetak kue leker. Foto: Hasna |
Kudus, Suara Terkini Muria – Seiring berjalannya waktu
semakin banyak makanan dengan beraneka ragam rasa maupun bentuknya. Pemuda masa
kini tidak banyak yang tahu mengenai makanan jadul sekaligus khas yang populer
pada masa dahulu.
Kue leker yang banyak dikenal yaitu makanan yang dicetak dengan piringan kecil yang diletakkan langsung dikompor. Namun berbeda halnya dengan kue leker yang ada di sekitar Menara Kudus. Perbedaan ini terlihat jelas pada saat proses pembuatannya.
Kue leker tersebut dinilai cukup unik karena menggunakan kompor anglo (kompor areng). Cemilan ringan yang satu ini termasuk pada makanan jadul dan langka di Kudus. Namun herannya banyak orang yang tidak tahu bahwa leker ini termasuk makanan jadul yang mana merupakan makanan peninggalan Belanda.
Zaman dahulu juga yang berjualan kue leker ialah orang-orang Belanda. Seperti halnya pula kompor anglo yang digunakan untuk mencetak leker orang Belanda saat itu. Justru kompor tersebut digunakan untuk mencetak serabi oleh orang Indonesia, terkhususnya Jawa.
Abdul Ghoni, selaku penjual kue leker jadul mengungkapkan
bahwa leker ini sudah berjalan mulai tahun 2017 hingga sekarang. Meskipun pada
tahun 2020 ada pandemic covid 19, ia tetap konsisten berjualan.
“Jualan memang dari tahun 2017 sampai sekarang ini. Setelah itu ada pandemic covid 19 juga, tapi saya tetap jualan meskipun demikian,” tambahnya saat diwawancarai pada Kamis, (13/07/2023)
Kue leker ini dibandrol seharga 10 ribu rupiah mendapatkan dua. Sedangkan untuk varian rasanya ada pisang coklat dan pisang coklat keju. Meskipun demikian kue leker satu ini memang berbeda dari yang biasanya, yang ini lebih banyak isinya, jadi cukup wort it.
"Kue leker ini sebetulnya identik dengan pisang, kalau tidak ada pisangnya itu namanya crepes. Jadi dimana ada kue leker, pasti ada pisang dan coklatnya. Bahkan dulu coklatnya menggunakan coklat bubuk bukan meses seperti sekarang ini," ujarnya.
Laki-laki paruh baya yang berumur 52 tahun ini akui dalam sehari bisa habiskan sekitar 1 kilogram hingga 2 kilogram adonan kue leker. Sedangkan untuk mulai berjualannya kondisional.
Sementara itu Nabila Nisrina selaku pembeli saat itu akui bahwa sekarang mencari leker yang seperti itu sudah sangat langka di Kudus. Pasalnya selain unik karena merupakan makanan jadul, rasa dari kue leker ini juga nikmat.
Reporter : Aisyah Hasna
Editor : Rohim

Komentar
Posting Komentar