Langsung ke konten utama

Komunitas Lelana Kudus Adakan Walking Tour Kembali

Walking Tour Lelana Kudus di desa Langgar Dalem. Foto : (Eka Uswa/Reporter)


Kudus, Suara Terkini Muria - Komunitas Lelana Kudus yang memiliki konsep Walking Tour ini kembali mengadakan walking tour ke Kota Tua, Desa Langgardalem.
 
Lelana Walking Tour ini di koordinasi oleh Hidayat selaku founder dari komunitas Lelana Kudus. Kali ini Lelana akan melakukan walking tour bersama sama dengan para wisatawan.

Terdapat 13 peserta dari berbagai kota seperti dari Kudus, Jepara, Solo, hingga Yogyakarta yang mengikuti Lelana Walking Tour. 

Selaku pemandu lelana, Dayat menceritakan kepada mengenai sejarah Kudus yang pernah dipimpin oleh Bupati Raden Mas Arya Candranegara V, atau yang lebih dikenal dengan nama Arya Purwalelana.
Dijelaskan bahwa ia masih memiliki silsilah hubungan dengan R.A. Kartini dari Jepara. Istri Arya Purwalelana juga masih menjadi bagian dari keluarga Mangkunegara Yogyakarta. Dari nama Bupati Arya Purwalelana itulah walking tour ini diberi nama Lelana (berpetualang).

Dayat memaparkan, bahwa ternyata dahulu Kota Kudus memiliki dua lokasi alun-alun. Lokasi alun-alun pertama merupakan alun-alun Kanjeng Sunan Kudus yang saat ini telah menjadi Taman Menara, kemudian untuk alun-alun yang kedua berlokasi di Simpang Tujuh. 

Uniknya, setiap alun-alun ini berdekatan dengan masjid, seperti alun-alun Sunan Kudus yang dekat dengan Masjid Al-Aqsa dan alun-alun Simpang Tujuh dengan Masjid Agung.

“Keberadaan masjid bukan hanya untuk melaksanakan ibadah, tetapi juga untuk mengadakan musyawarah untuk memecahkan hukum-hukum perdata,” ucap Dayat.

Sembari bercerita terus melanjutkan perjalanan menelusuri Langgardalem sebagai tujuan utama walking tour ini. 
Tata ruang sudut-sudut di Langgardalem terlihat kuno, kontruksi bangunan yang menjulang tinggi dengan gaya arsitektur seperti bangunan pada masa Hindia-Belanda. 

Harapan kedepan nya komunitas Lelana Kudus ini tetap ada dan smakin dikenal bagi para wisatawan baik dari Kudus maupun dari luar Kudus.

Reporter : Ek
Editor : Nad

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merawat Alat Giling Rokok, Bukti Sejarah Kretek di Kudus

  Terlihat salah satu pengunjung sedang mengamati alat giling rokok yang tersimpan rapi di Museum Kretek, Senin (24/07). Foto : (Qotrun Nada/Reporter) Kudus, Suara Terkini Muria - Seperti julukannya sebagai Kota Kretek, Kudus sebagai kabupaten kecil rupanya menyimpan banyak sejarah dan peradaban. Peradaban yang paling masyhur adalah produksi rokok yang telah ada dari ratusan tahun silam. Untuk melihat sejarah itu maka saya bersama tim Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Suara Merdeka melakukan kunjungan ke Museum Kretek yang berada di Getas Pejaten Kecamatan Jati, Kudus, Jawa Tengah.  Dari pusat Kota Kudus menuju ke Museum Kretek hanya ditempuh sekitar tujuh menit jika menggunakan sepeda motor. Di gerbang masuk bertuliskan Museum Kretek pengunjung akan dikenakan biaya Rp 4000 perorang, harga yang terbilang murah untuk menuju gerbang sejarah peradaban kretek di Kota Kudus. Museum Kretek ini beroperasi setiap hari dari pukul 08.00 - 15.00 WIB, di sana juga terdapat resepsionis y...

Cita Rasa Pecel Pakis Khas Colo

  Penampakan pecel pakis dengan bakwan. Foto : (istimewa) Kudus, Suara Terkini Muria - Pecel pakis khas Colo, hidangan lezat yang terkenal dari Jawa Tengah, Kudus tepatnya berada di Desa Colo kawasan muria. Pecel pakis terus memikat lidah para pecinta kuliner di seluruh negeri. Dengan cita rasa khasnya yang gurih, pedas, dan segar, pecel khas Colo menjadi primadona dalam dunia kuliner Indonesia. Pecel pakis khas Colo memikat perhatian dengan sambal kacangnya yang sangat istimewa. Terbuat dari bahan-bahan segar seperti kacang tanah, cabe rawit, bawang putih, gula merah, garam, dan air jeruk nipis, sambal kacang ini memberikan sentuhan rasa yang tak terlupakan. Rempah-rempah pilihan yang digunakan dalam sambal kacang ini memberikan aroma dan cita rasa yang khas, menjadikan pecel pakis khas Colo begitu istimewa. Hidangan ini terdiri dari beragam sayuran segar seperti kubis, kecambah, daun kemangi, bayam, dan sayuran lainnya yang direbus atau dikukus dengan sempurna. Kemudian, sayuran...

Sangkar Burung Bernilai Filosofi Tinggi

Sangkar Burung Filosofi yang dibuat oleh Bapak Takim. Sebelah kanan (Bapak Takim). Foto Oleh Renanda/Reporter (5/7/22) Kudus, Suara Terkini Muria -  Sangkar burung unik buatan Bapak Takim (40) warga Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus penuh akan nilai filosofi. Memulai berkarya membuat sangkar burung filosofi pada tahun 2014. Di rumahnya tersebut, awalnya Takim hanya membuat furnitur yang dipesan oleh warga sekitar rumahnya. Namun, seiring berjalannya waktu, dia mulai menekuni sangkar burung. Takim menjelaskan bahwa, sebelum tertarik mmebuat sangkar burung, ia juga menerima pesanan pembuatan pintu, jendela dan kusen rumah. ''Awalnya itu furnitur tapi saat pencinta burung mulai banyak, saya juga tertarik untuk membuatnya.'' jelas Takim. Di sisi lain, dengan banyaknya pembuat sangkar yang ada di Kudus, Takim mengingikan bahwa sangkar burung yang ia buat akan sangat berbeda dari biasanya. Ia menjelaskan bahwa nilai filosofi sangat diperlukan jika hal itu haru...