![]() |
| Beberapa pengunjung sedang menikmati keasrian air terjun Kedung Gender yang berada di Desa Dukuhwaringin. Foto : (Qotrun Nada/Reporter) |
Kudus, Suara Terkini Muria - Sebuah rombongan kecil dengan jumlah sekitar 10 orang itu memacu motornya menuju arah utara Kota Kudus, sebuah wilayah yang terkenal asri dan sejuk karena berada di lereng Gunung Muria. Saya yang berada di antara rombongan itu turut bersemangat menuju tempat wisata air terjun yang belum banyak orang ketahui, dan perjalanan kali ini cukup melelahkan pasalnya saya harus menempuh sekitar 19,5 Kilometer dari pusat Kota Kudus. Wisata air terjun yang berada di Dukuh Talangwesi, Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus itu rupanya memiliki keindahan alam yang menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun non-domestik.
Tatkala terik matahari di atas kepala kami semakin memacu perjalanan dengan melewati banyaknya rombongan peziarah Sunan Muria, hijaunya panorama Gunung Muria juga menemani perjalanan saya kali ini. Dengan potograsi hutan yang lebat dan bukit-bukit yang menjulang tinggi membuat mata yang melihatnya langsung terpikat dengan paras keindahannya. Berbekal aplikasi maps akhiran saya sampai di tempat tujuan, yaitu air terjun Kedung Gender.
Sebelum melanjutkan perjalanan ke air terjun Kedung Gender, saya bersama rombongan terlebih dahulu bertolak ke rumah Hasanuddin, salah satu penggerak desa wisata di Desa Dukuhwaringin. Dengan ditemani secangkir teh dan sejuknya udara di siang hari itu, kami bercengkrama ringan untuk melepas lelah dari jauhnya perjalanan.
Kepada kami Hasanuddin menceritakan awal mula terbentuknya wisata air terjun Kedung Gender, berawal dari tahun 2016 kala itu kedatangan rombongan wisatawan satu bis yang ingin mengunjungi air terjun Kedung Gender tetapi saat itu belum ada akses dan harus melewati hutan lebat dan jalan yang terjal. Dari hal itu Hasanuddin kemudian melihat air terjun Kedung Gender memiliki potensi besar yang belum dilihat oleh masyarakat setempat, dan untuk itu dibutuhkan kesadaran dari pemerintah desa maupun masyarakat sekitar.
![]() |
| Hasanuddin sedang menceritakan awal mula dikelolanya wisata air terjun Kedung Gender. Foto : (Qotrun Nada/Reporter) |
"Yang melopori wisata disini adalah saya yang kemudian didukung kepala desa, dan sampai sekarang untuk pariwisata lebih kepengelolaanya," kata Hasanuddin sekaligus ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Atas inisiatif tersebut, di akhir tahun 2016 seluruh lapisan masyarakat mulai dari pemerintah desa hingga warga Desa Dukuhwaringin melakukan penataan agar akses menuju air terjun Kedung Gender lebih mudah, dan masyarakat dapat terlibat langsung dalam pengembangan wisata. Dengan penuh semangat Hasanuddin kemudian menunjukkan progres wisata air terjun Kedung Gender yang berkembang lebih cepat, mulai dari pengadaan homestay, tour guide, susur sungai, camping ground, fasilitas kamar mandi, dan pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dari warga setempat.
Peran Pemerintah Dalam Pengembangan Wisata
Tidak sampai disitu, pengembangan wisata air terjun Kedung Gender juga disusul dengan diterbitkannya Surat Keputusan (SK) Bupati yang menjadikan Desa Dukuhwaringin sebagai desa wisata dengan ikon air terjun Kedung Gender. Dukungan tersebut yang kemudian menjadikan air terjun Kedung Gender semakin dikenal oleh banyak bakalan, dan mendapatkan bantuan dalam pengembangan potensi alam.
Kerjasama juga dilakukan dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus untuk pengembangan dan sosialisasi dengan melakukan monitoring. Dari bantuan tersebut, Hasanuddin kemudian berharap setiap wisata di Kabupaten Kudus mendapatkan perhatian dari pemerintah sehingga membantu daerah dan masyarakat dalam hal budaya, sosial, dan ekonomi.
"Saya sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pengembangan air terjun Kedung Gender. Dan saya yakin sangat bisa, orang yang berkunjung pasti membawa uang jadi mereka membeli, dan perputaran ekonomi itu pasti, apalagi di Muria itu mengandalkan wisata ziarah dan alamnya," ujarnya.
Panorama Air Terjun Kedung Gender
Setelah bercengkrama, kemudian Hasanuddin mengajak kami untuk menelusuri air terjun Kedung Gender yang jarak dari rumahnya sekitar 600 meter, perjalanan kali ini kami tempuh dengan jalan kaki karena akses yang masih asri dan tidak memungkinkan untuk sepeda motor masuk. Di awal perjalanan setiap pejalan kaki akan disambut dengan papan dari kayu yang bertuliskan "Air Terjun Kedung Gender", dan panorama hutan menjadi destinasi yang ditawarkan.
Di tengah perjalanan udara sejuk terasa menyelimuti tubuh, ditambah kicauan burung terdengar merdu ditelinga menjadi suasana yang takkan pernah terlupakan. Sesekali mata ini memancar ke atas melihat sinar matahari yang masuk di antara celah ranting pohon yang menjulang tinggi, mungkin usia pohon itu bisa terbilang puluhan hingga ratusan tahun silam.
Berbeda di awal-awal perjalanan yang terkesan santai karena akses yang mudah dan tidak terjal, di tengah perjalanan suasana yang ditawarkan pun berbeda, gemericik air mulai mengalir jernih diantara sisi kanan dan kiri tebing yang menjulang tinggi, pohon bambu dengan ukuran besar dan tinggi sesekali mengeluarkan suaranya karena terkena kibasan angin siang itu.
Suara derasnya air terjun Kedung Gender mulai terdengar jelas ketika kami menelusuri jalan bebatuan, setiap dari kami harus berhati-hati karena jalan yang licin. Di sisa perjalanan sayup-sayup suara pengunjung mulai terdengar jelas, semangat untuk sampai tujuan terpacu dengan cepat karena bisa terbayangkan betapa indahnya alam di air terjun Kedung Gender.
Sesampainya di sana tertulis dengan jelas "Kedung Gender" yang terbuat dari potongan bantu yang kemudian diantara ujungnya saling diikat, tubuh sayapun mulai terkena percikan air yang jatuh dari atas tebing. Rasa segar air dan tingginya tebing yang mengelilingi membuat suasana menjadi lebih sejuk dan asri, di sana banyak anak-anak muda dan orang tua yang sedang berendam atau sekedar duduk di atas batu menikmati suasana.
Nahasnya disepanjang menuju air terjun Kedung Gender banyak tempat perputaran ekonomi warga sekitar yang kosong dan mulai roboh, sehingga para pejalan kaki harus membawa perbekalan terlebih dahulu. Ternyata kosongnya tempat tersebut adalah dampak pandemi covid-19 kemarin yang mengharuskan wisata air terjun Kedung Gender sepi dari pengunjung, perputaran ekonomipun harus terhenti sementara waktu.
Setelah puas menikmati indahnya air terjun Kedung Gender saya bersama rombongan memutuskan untuk pulang. Sesampainya di pintu keluar kami kembali di sambut oleh Hasanuddin yang tengah duduk santai di area camping ground, ia menunjukkan jalur flying fox yang tengah tahap pembangunan.
Hasanuddin juga menunjukkan tempatnya memandu susur kali yang berada di jembatan yang jaraknyapun tidak terlalu jauh dari tempat kami duduk sore itu, tempat yang lapang hijau dan terawat menunjukkan bagaimana Hasanuddin bersama warga sekitar dalam merawat dan mengembangkan wisata air terjun Kedung Gender ini.
Reporter: Nad
Reporter: Nad


Komentar
Posting Komentar