![]() |
| Terlihat salah satu pengunjung sedang mengamati alat giling rokok yang tersimpan rapi di Museum Kretek, Senin (24/07). Foto : (Qotrun Nada/Reporter) |
Dari pusat Kota Kudus menuju ke Museum Kretek hanya ditempuh sekitar tujuh menit jika menggunakan sepeda motor. Di gerbang masuk bertuliskan Museum Kretek pengunjung akan dikenakan biaya Rp 4000 perorang, harga yang terbilang murah untuk menuju gerbang sejarah peradaban kretek di Kota Kudus. Museum Kretek ini beroperasi setiap hari dari pukul 08.00 - 15.00 WIB, di sana juga terdapat resepsionis yang dengan ramah menyapa setiap pengunjung yang datang. Berukuran kurang lebih dua hektar Museum Kretek ini mengoleksi banyak benda-benda antik di masa lalu yang totalnya 1.195 koleksi, mulai dari biologika, ethnografika, historika, kramologika, dan teknologika.
Di depan Museum Kretek terdapat patung keluarga petani sedang bercengkrama, bagi siapa saja yang melihatnya pasti terkesima dengan keindahan seni yang bercerita itu. Di sebelah kiri museum patung kuda berdiri kokoh dengan gerobak yang melekat di belakangnya sebagai bukti bahwa dahulu dokar menjadi transportasi bagi masyarakat Kudus.
Tepat pukul 10.00 WIB saya bersama tim PPL bergegas memasuki Museum Kretek, ketika memasukinya melihat koleksi barang-barang kuno membawa saya menuju ke dimensi ratusan tahun yang lalu, benda-benda yang berhubungan erat dengan produksi rokok tersusun rapi di dalam museum. Untuk mengeksplor museum ini kami hanya diberi waktu sekitar satu jam, dan tak seperti biasanya kali ini Museum Kretek sepi dari pengunjung hanya ada saya dan tim PPL saja, sehingga kami bisa lebih leluasa menggali pengetahuan dan mengambil foto sebanyak-banyaknya.
Ketika masuk lebih dalam disebelah barat terdapat etalase yang menyimpan alat pembuatan rokok yang kerap disebut dengan alat giling rokok, alat ini sangat erat dalam pembuatan rokok tradisional. Alat giling rokok itu terpajang rapi dengan jumlah ada tiga buah, disebelah kiri alat giling rokok berukuran kecil berbeda dengan yang di tengah dan kanan yang lebih besar ukurannya.
Alat giling rokok tradisional itu dioperasikan secara manual menggunakan tangan, sehingga kecepatan tangan sangat diperhitungkan. Alat penggiling itu terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai ‘stang giling’ dan ‘as’. Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat ‘bunukan’. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek.
Rasa penasaran saya tidak berhenti sampai disitu, saya kemudian berjalan menuju arah utara melihat replikasi pengoperasian alat giling rokok tadi. Dalam pengoperasian alat tersebut juga terbilang mudah, tembakau ditaruh di cangkeman dengan tangan kanan menekan tembakau agar padat, sedangkan tangan kiri menarik stang giling bersamaan dengan ditaruhnya kertas rokok. Proses pembuatan rokok manual seperti itu masih banyak dilakukan pada perusahaan-perusahaan rokok di Kudus.
Tanpa saya sadari Aisyah Hasna Muffidah teman satu PPL sedang berdiri menghadap etalase, sorot matanya begitu tajam melihat setiap detail proses pembuatan rokok melalui replika yang ada. Sesekali Hasna (sapaan akrabnya) mengambil foto dan melihat samping kanan kiri untuk mencari objek yang menarik untuk di jepret, sayapun menghampirinya untuk sekedar bertanya pesan kesannya melihat koleksi di Museum Kretek.
Ini adalah kali kedua Hasna mengunjungi Museum Kretek setelah sebelumnya ia mendapatkan tugas kunjungan saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Memorinya cukup kuat, ia menceritakan kembali bagaimana dahulu keadaan Museum Kretek yang jauh berbeda dari sekarang ini.
Dengan penuh semangat Hasna menceritakan bahwa berkunjung ke Museum Kretek membantunya dalam menambah wawasan dan pengetahuan, baginya proses produksi rokok kretek harus diketahui oleh banyak orang khususnya masyarakat Kudus sendiri. Hasna pun dapat membandingkan bagaimana proses pembuatan rokok tempo dulu dan modern ini.
"Dengan adanya museum kretek membuat kita yang kepo bisa tahu isi didalamnya dan apa saja yang dibutuhkan dalam membuat rokok, produksi yang dulunya ada apa saja dan yang sekarang apa saja, jadi ada perbedaan, ada alat-alat rokok yang dulu digunakan untuk menggiling jadikan tahu prosesnya," terang Hasna (24/07/2023).
Disisa waktu yang ada, saya di ajak Hasna keluar museum untuk melihat koleksi yang lain. Saat berada di pintu keluar museum udara siang menyapa kami dengan hangat, hijaunya pohon di sekeliling museum menjadi warna dan suasana yang menarik di tengah kota. Jalan bebatuan kerikil kami lewati dengan setapak kaki sambil menelusuri keindahan museum kretek yang belum banyak terjamah oleh mata orang.
Diluar koleksi rokok terdapat replika cagar budaya Kudus seperti rumah adat pencu, rumah kapal, masjid wali, dan omah kembar. Dalam waktu yang singkat kami seolah dibawa berkeliling Kota Kudus dengan melihat banyaknya keragaman dan budaya yang tersimpan di dalamnya. Karena panasnya udara siang itu, kami kemudian duduk istirahat di kursi taman sambil melihat panorama rumah adat pencu yang berdiri kokoh menghadap selatan.
Sebelum pulang saya dan Hasna kembali masuk ke dalam museum, disana telah ada diskusi kecil bersama Saiful Annas (pembimbing PPL di Suara Merdeka) dan teman-teman PPL yang lain. Mereka saling menunjukkan handphone untuk memperlihatkan jepretan terbaik yang dihasilkan, dengan bergegas saya kemudian mengambil handphone yang berada di saku dan menunjukkan beberapa foto yang telah saya ambil.
"Ambillah foto sebaik mungkin, dengan foto itu pembaca akan tahu bagaimana keadaan di lapangan," terang Annas saat mengarahkan kami untuk mengambil angle foto yang menarik.
Reporter : Nad

Komentar
Posting Komentar