Langsung ke konten utama

Mulai Jualan Jamu Keliling, Nami’ah Raih Omset Jutaan

 

Bu Nami’ah yang tengah melayani pembeli.
( dok pribadi)

Kudus, Suara Terkini Muria- Mulai jualan jamu keliling menggunakan sepeda motor, ibu rumah tangga berusia 45 tahun ini raih omset jutaan setiap bulannya. Itulah pekerjaan sehari-hari Nami’ah, penjual jamu keliling yang tinggal di Desa Pedawang, Bae, Kudus. 

Sejak pandemi menyerang, Nami’ah menggeluti bisnis jualan jamu keliling yang banyak orang belum mengetahuinya. Sebelum terjun menjadi jual jamu keliling menggunakan sepeda motor dulunya Nami’ah hanya menggunakan bakul dengan selendang sebagai wadah untuk produk jamunya. Namun rasa lelah yang ia rasakan, memaksakan Nami’ah untuk membeli motor agar dirinya tidak terlalu lelah dan ia bisa menjajakan produknya sampai kemana pun.

“Sejak pandemi saya telah menggeluti bisnis ini namun Cuma bermodal bakul dan selendang. Itu pun saya hanya berkeliling dari Rt ke Rt lain. Dan semenjak pegal-pegal menyerang dan omset naik turun, saya memberanikan diri untuk membeli motor bekas ini dengan uang tabungan seadanya,” jelas Nami’ah. 

Jualan yang ia tekuni sejak 2020 itu kini telah meraih omset jutaan dan mampu menghidupinya beserta keluarganya. Mulai beroperasi sekitar pukul 08.00 hingga 15.00 dan berkeliling dari Desa Pedawang sampai Bacin dan terkadang sampai Jekulo membuat wanita berusia 45 tahun ini merasa bersyukur.

“Mulai buka itu sekitar pukul delapan sampai pukul 3, kalau habis cepat ya paling jam 12 saya pulang.” Jelasnya

Selain itu, jamu yang ia jual belikan merupakan produk yang ia produksi sendiri dengan cara ditumbuk dan direbus. Hal tersebut ia lakukan setelah pulang dari berdagang. Nami’ah sama sekali tidak menggunakan blender seperti pedagang jamu pada umumnya. Itu yang membuat banyak pembeli lebih memilih membeli jamu miliknya. 

“Bu Nami’ah itu selalu lewat sini dan saya salah satu pelanggan setia. Dari penilaian saya, jamu miliki Bu Nami’ah ini rempah-rempahnya sangat kuat, seperti jamu kunir ini. Bau kunirnya kuat dan sangat meyengat.” Terang Ijah, pelanggan Nami’ah. 

Nami’ah melakukannya sebab mempertahankan cita rasa dari jamu dan menjadikan produknya sebagai produk jamu yang disukai banyak pelanggan, terbukti dengan omsetnya yang naik. Bagi Nami’ah yang paham akan ramuan jamu, membuat pelanggan menyukai produknya adalah satu kunci percaya dan dengan begitu penghasilannya akan naik. 

“Bagi saya, ramuan jamu jangan pernah pakai bubuk yang dijual di pasar. Lebih baik kita buat sendiri dengan membeli rempah-rempah seperti sirih, kunir, kunyit. Supaya ketika pelanggan mencoba mereka akan terkesan dengan “ini bau rempahnya menyengat sekali ya,Bu”.” Imbuh Nami’ah.

Reporter: Iza
Editor: Mai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Horog-Horog Merupakan Makanan Khas Jepara Yang Sangat di Minati khususnya warga Jepara

  Makanan khas jepara horog horog yang dinikmati dengan sate sate an sangat diminati khususnya warga Jepara. Foto : (Istimewa) Jepara, Suara Terkini Muria - Untuk kamu yang berkunjung ke Jepara belum lengkap rasanya jika tidak mencicipi makanan khasnya yaitu horog horog.  Nama makanan ini mungkin terdengar aneh, tapi di balik keanehan namanya horog horog mempunyai rasa yang enak. Bahkan akan lebih enak jika disajikan bersama bakso, pecel, sate bahkan minuman sekalipun. Meskipun pedagang horog horog di Jepara terbatas, namun untuk mendapatkan kuliner ini tidaklah sulit. Hampir di semua pasar tradisional ada penjual horog horog.  Bahkan warung-warung makan di sejumlah daerah di Jepara juga menyediakan horog horog dalam berbagai olahan. Jika membeli di warung makan, satu potong biasanya dihargai Rp 1.000 saja. Horog Horog adalah jajanan yang dibungkus di dalam daun jati atau pisang. Makanan khas Jepara ini terbuat dari olahan pohon Aren. Proses pembuatannya cukup panjang da...

Mengenal lebih jauh nitisemito di museum kretek kudus

  Salah satu pengunjung yang terlihat tertarik memandangi patung nitisemito Mengenal lebih jauh sosok nitisemito di museum kretek kudus  Patung yang berada didalam museum kretek kudus tampak seperti bapak bapak mengenakan kacamata bulat dan corak patung itu sendiri berwarna abu abu tua,  patung setengah badan lelaki tua yang dipanggil Nitisemito itu berdiri anggun, dari jendela rumahnya, seolah memberi salam, dan menceritakan kisah pendek hidupnya. Posisinya di sebelah kiri pintu masuk, tempat pengunjung mengawali eksplorasi isi museum. Museum kretek kudus ini merupakan museum yang berada di Jl. Getas Pejaten No.155, Getas, Getas Pejaten, Kec. Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.  Lokasi nya sangat strategis dan sangat mudah dijangkau untuk siapapun, jika kalian ingin memasuki museum kretek kudus kalian cukup hanya membayar Rp.4000/orang. Cukup murah dan sangat terjangkau untuk mahasiswa seperti saya yang uang nya masih pas pas an. Museum Rokok kretek kudus ini tidak ...

Merawat Alat Giling Rokok, Bukti Sejarah Kretek di Kudus

  Terlihat salah satu pengunjung sedang mengamati alat giling rokok yang tersimpan rapi di Museum Kretek, Senin (24/07). Foto : (Qotrun Nada/Reporter) Kudus, Suara Terkini Muria - Seperti julukannya sebagai Kota Kretek, Kudus sebagai kabupaten kecil rupanya menyimpan banyak sejarah dan peradaban. Peradaban yang paling masyhur adalah produksi rokok yang telah ada dari ratusan tahun silam. Untuk melihat sejarah itu maka saya bersama tim Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Suara Merdeka melakukan kunjungan ke Museum Kretek yang berada di Getas Pejaten Kecamatan Jati, Kudus, Jawa Tengah.  Dari pusat Kota Kudus menuju ke Museum Kretek hanya ditempuh sekitar tujuh menit jika menggunakan sepeda motor. Di gerbang masuk bertuliskan Museum Kretek pengunjung akan dikenakan biaya Rp 4000 perorang, harga yang terbilang murah untuk menuju gerbang sejarah peradaban kretek di Kota Kudus. Museum Kretek ini beroperasi setiap hari dari pukul 08.00 - 15.00 WIB, di sana juga terdapat resepsionis y...