![]() |
| Di area lantai 1 Pasar Kliwon masih terlihat sepi dari pembeli, Kamis (06/07). Foto : (Qotrun Nada/Reporter) |
Kudus, Suara Terkini Muria - Sejak Jumat (30/12/2022) Presiden Joko Widodo telah resmi mencabut Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) karena melihat angka covid-19 semakin menurun. Dampak dari PPKM sangat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali para pedagang di pasar yang harus terkena imbasnya, pembatasan jarak tersebut mengakibatkan pertumbuhan ekonomi semakin melambat dan pendapatan menurun. Kendati sudah tujuh bulan, tapi dampak PPKM masih dirasakan oleh pedagang di Pasar Kliwon, Kudus.
Sepinya pasar akibat covid-19 juga dirasakan oleh Siti Nor Azizah sebagai pedagang ayam kampung, dirinya mengaku sebelum pandemi covid-19 pasar Kliwon sangat ramai pembeli, bahkan dirinya terkadang merasa kualahan. Biasanya orang datang ke pasar dalam seminggu bisa empat kali, tetapi sekarang sebulan bisa satu kali. Akibat sepinya pasar membuat para pedagang resah, meraka terkadang harus menawarkan dagangan dengan berkeliling pasar.
"Kalau pagi biasanya pasar rame dan siang sudah mulai sepi, jadi sehari kadang bisa 5 atau 10 saja, beda kalau yang dulu itu rame," terang Azizah, Kamis (06/07/2023).
Proses jual beli online ketika terjadi covid-19 juga menjadi salah satu faktor sepinya Pasar Kliwon, karena saat ini masyarakat lebih senang membeli barang dan kebutuhan pokok melalui platform belanja online tanpa harus keluar rumah. Sehingga itu menjadi tantangan tersendiri bagi pedagang di pasar untuk mendapatkan pelanggan.
Di tengah banyaknya persaingan online membuat Azizah harus mengikuti arus perkembangan zaman, dirinya juga memasarkan dagangan melalu Instagram, WhatsApp, dan Facebook. Ironisnya pengelola Pasar Kliwon saat ini belum melakukan tindakan apapun untuk mengatasi rendahnya daya beli masyarakat.
"Ya kalau sepi kayak gini terus saya membuat inovasi dengan ungkep ayam, jadi ngga jualan mentahnya saja. Dan saya berharap pertumbuhan ekonomi kembali membaik agar pasar rame lagi, masa yang namanya pasar ngga rame," ucapnya.
Berbeda dengan Azizah, Salah satu pedang pakaian Muhammad Yahya mengaku sepinya pasar Kliwon lebih parah ketika terjadi kenaikan pertalite, ditambah dengan kondisi pertanian yang mengalami kerugian membuat daya beli di Pasar Kliwon semakin rendah. Sedangkan partai besar dari Surabaya, Kediri, dan sekitar justru lebih memilih datang langsung ke tempat produksi, karena harga yang diperoleh semakin sedikit.
"Melihat sepinya pasar saya juga melakukan ekspedisi paket ke beberapa pulau, seperti Makasar, Kalimantan, dan Rembang," ucapnya.
![]() |
| Muhammad Yahya menceritakan sepinya Pasar Kliwon sejak pandemi covid-19. Foto : (Qotrun Nada/Reporter) |
Lebih lanjutnya, pria yang berusia 45 tahun itu menjelaskan bahwa sepinya pasar membuat pendapatan menurun 30 persen, dalam sehari Yahya hanya memperoleh 15 hingga 20 pembeli, hal itu jauh berbeda saat sebelum pandemi covid-19.
"Yang saya rasakan itu ekonomi yang tidak stabil, tapi per hari ini saya merasa ekonomi mulai sedikit membaik, ya kita do'akan semoga dapat pulih kembali," harapnya.
Yahya menilai bahwa keberadaan pasar global saat ini membuat masyarakat harus bisa mengikutinya dengan baik. Berbeda halnya dengan sebagian pedagang yang lebih memilih jualan di pasar saja tanpa penjualan online, mereka benar-benar merasakan sepinya pembeli di pasar.
"Biasanya pasar rame itu saat hari-hari besar Islam, seperti Idul Fitri dan Idul Adha kemarin, tapi kalau di hari-hari lain ya sepi,"
Reporter : Nad
Editor : Erna


Komentar
Posting Komentar