![]() |
| Terlihat pengunjung sedang melihat rokok masa lampau. Foto : Hasna |
Kudus, Suara Terkini Muria – Seperti yang kalian ketahui
bahwa Kudus terkenal sebagai Kota Kretek. Dalam museum kretek ini terdapat banyak
benda didalamnya. Museum kretek ini menampilkan sejarah pembuatan rokok kretek
dan dioramanya. Lahirnya kretek di Kudus ini tidak dapat dipisahkan dari Hj.
Jamhari selaku pelopor kretek.
Museum kretek didirikan bertujuan untuk menunjukan bahwa
kretek berkembang sangat pesat di tanah jawa khususnya di kota kudus. Museum
ini memiliki luas sekitar 2,5 hektar, namun cukup indah dan rapi. Di museum ini
diperkenalkan mulai dari sejarah tentang kretek hingga proses produksi rokok
kretek, mulai dari pembuatan secara manual sampai menggunakan teknologi modern.
Di sana juga bisa ditemukan siapa saja tokoh-tokoh yang berperan besar dalam
memajukan bisnis rokok di Indonesia.
Tidak hanya alatnya saja, ada pula diorama pembuatan rokok
kretek dan pemasaran atau penjualan rokok. Selain itu, juga dapat melihat
bagaimana proses pengumpulan tembakau, proses penghancuran, pemadatan dan
penggilingan. Tidak hanya itu, terdapat pula diorama penjualan rokok kretek.
Keberadaan Museum Kretek sendiri menjadi kebanggaan bagi
warga Kudus khususnya, dan sebagai pelengkap wisata ketika berlibur di kota
kretek tersebut. Seperti disebutkan sebelumnya, koleksi yang tersimpan di
Museum Kretek Kudus berkaitan dengan sejarah, bahan baku, proses pembuatan
hingga pengemasan dari rokok kretek.
Museum kretek terletak di Desa Getas Pejaten, Kecamatan
Jati, Kabupaten Kudus. Rute menuju Museum Kretek Kudus sangat mudah dijangkau,
apalagi lokasinya yang berada di pusat kota. Dari Alun-Alun Kudus hanya memakan
waktu sekitar 6 menit saja. Museum ini buka mulai jam 08.00 - 16.00 WIB dengan
harga tiket masuk Rp 4000 perorangnya.
Pada pukul 10.00 pagi menjelang siang itu pada hari Senin,
24 Juli 2023, Museum Kretek dikunjungi para mahasiswa PPL (Praktik Pengalaman
Lapangan) dari Suara Merdeka. Kemudian didalam sana kita diberi pengarahan
terlebih dahulu terkait tujuan mereka kesana oleh Saiful Annas selaku pembimbing
PPL di Suara Merdeka. Tak hanya itu, mereka juga diberi tugas untuk menulis
feature terkait dengan museum kretek tersebut.
Setelah diberi pengarahan, terlihat para mahasiswa berpencar
untuk menentukan angle tulisan yang akan mereka buat. Sesekali mereka memfoto
terkait diorama pembuatan rokok. Adapula yang melihat-lihat dan mengscan
barcode yang telah tertera.
Salah satu yang cukup menarik perhatian yakni terkait
transformasi rokok masa lampau hingga rokok masa kini. Terlihat ada dua etalase
ukuran kecil dan besar di depan diorama proses pembuatan rokok. Etalase kecil berisikan
rokok dengan kemasan masa kini, sedangkan etalase besar memperlihatkan terkait
rokok dengan kemasan masa lampau.
Rokok dengan kemasan lama terlihat berjajar rapi pada sebuah
meja kotak besar. Dalam etalase tersebut berisikan rokok kemasan lama dengan tiga
produksi yang berbeda, yakni sigaret kretek tangan (SKT), sigaret kretek mesin
(SKM) dan rokok klobot.
Sigaret Kretek Tangan dibuat dengan dengan cara digiling
atau dilinting dengan menggunakan tangan dan atau alat bantu sederhana. Diperkenalkan pada tahun 1913, jenis kretek
yang dibungkus dengan kertas ini merupakan produk kretek pertama yang
diproduksi dalam jumlah masal untuk tujuan komersil. Sesuai namanya, setiap
batang kretek dilinting dengan tangan oleh para pekerja yang biasanya dilakukan
sambil duduk di lantai.
Kemudian pada tahun 1970, peraturan pemerintah mewajibkan
perusahaan menyediakan meja dan kursi bagi para pekerja pabrik kretek. Sigaret
kretek linting-tangan, yang tidak dilengkapi filter ini, terus menjadi pilihan
populer hingga saat ini. Merek-merek SKT yang populer di pasaran adalah Djarum
Coklat, Aroma Kretek, Dji Sam Soe dll.
SKT adalah salah industri padat karya yang menyerap tenaga
kerja sangat besar, khususnya tenaga kerja perempuan. Pada umumnya tenaga kerja
besar terserap untuk bagian pelintingan. Dalam sebuah mesin pelinting kretek,
seorang buruh dapat memproduksi SKT 350 batang perjamnya. Dari tangan-tangan
merekalah jutaan orang Indonesia menikmati kretek dan negara menikmati
sumbangsih hulu-hilir industri ini.
Sedangkan SKM ini iluncurkan pada tahun 1974, sigaret kretek
mesin merupakan sebuah produk yang booming dalam riwayat industri kretek. Jenis
kretek ini dilengkapi oleh filter dan memiliki penampilan serupa dengan rokok
merek Barat, yaitu seragam dari segi bentuk, ukuran, dan warna dalam setiap
batangnya. Dengan menggunakan mesin berteknologi terkini, Sigaret Kretek Mesin
(SKM) menghasilkan rokok-rokok modern berfilter yang digemari dan mengikuti
selera generasi kekinian dengan didukung desain brand yang menarik.
Sementara itu ada Dwi Qotrun Nada, selaku pengunjung
sekaligus mahasiswa PPL Suara Merdeka mengungkapkan bahwa ia terakhir kali
berkunjung yaitu waktu Madrasah Ibtidaiyah (MI). Karena lamanya ia tak berkunjung
ke Museum kretek, ia masih penasaran dengan keseluruhan isi pada museum.
“Saya sudah lama sekali tidak berkunjung kemari, sepertinya
terakhir kali pada waktu MI. Tapi saya tetap kepo dan ingin tahu terkait museum
kretek itu seperti apa. Seperti halnya terkait transformasi rokok masa lampau
hingga rokok masa kini di museum kretek Kudus ini,” ujarnya waktu diwawancarai pada
saat sedang memotret.
Perempuan yang kerap disapa Nada ini tidak hanya kepo dengan
barang yang didalamnya saja, namun ia memiliki rasa keinginan kepo yang tinggi
dengan mencoba keluar sekaligus menghirup udara diluar. Diluar disambut hangat
oleh udara siang hari dengan sesekali melihat replica cagar budaya di Kudus.
“Saya kagum dengan adanya replika cagar budaya ini, ternyata
museum kretek tidak hanya menampilkan terkait rokok saja. Namun juga terdapat
cagar budayanya juga yang beragam seperti umah adat pencu, rumah kapal, masjid
wali, dan omah kembar,” tambahnya.
Reporter : Hasna

Komentar
Posting Komentar