![]() |
| Spot foto berbentuk hati bertuliskan Kebon Kawis. Foto : (Qotrun Nada/Reporter) |
Kudus, Suara Terkini Muria - Wisata baru di lereng muria memberikan kesejukan dan ketenangan bagi wisatawan, berbagai potensi alam dan budaya menjadi fokus Wisata Bukit Kawis. Potensi desa yang berusaha dibangun oleh enam pemuda dukuh Kambangan.
Saat itu pagi menunjukkan pukul 10.30 WIB, saya bersama rombongan melakukan perjalanan menuju Kebon Kawis yang terletak di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Gebog, Kudus. Perjalanan tersebut bisa ditempuh kurang lebih 15 km dari pusat Kota Kudus. Di sepanjang jalan kami menikmati angin sejuk dengan sesekali terkena cipratan air dari sisi tebing jalan, ditambah kicauan merdu burung membuat perjalanan kali ini berkesan. Hutan lebat dan bukit-bukit yang menjulang tinggi membuat setiap mata yang melihatnya langsung terpikat akan keelokannya.
Sesekali keramahan masyarakat sekitar menjadikan kami semakin terpikat dengan Dukuh Kambangan, hal itu dapat terlihat dari senyum manis warga ketika kami sampai di wisata kebon Kawis. Ketika memasuki tempat kami melihat gapura yang bertuliskan “Kebon Wisata Kawis (Kambangan Wisata)” sebagai bentuk selamat datang kepada pengunjung. Setelah memasuki gapura, kami menyusuri tanah setapak dan tangga yang terbuat dari bambu. Kebon Kawis dikelilingi oleh perbukitan dengan pemandangan alam yang memikat.
Secara keseluruhan spot yang ada terbuat dari bahan bambu sebagai bentuk pemanfaatan alam di Dukuh Kambangan. Ketika menyusuri jalanan menuju tempat wisata pastinya akan melihat bambu yang berada disisi jalan. Maka dari itu bambu menjadi bahan utama dalam pembangunan Wisata Kawis.
Di dalam Kebon Kawis terdapat papan kayu dengan tulisan bahasa kekinian yang sering dibuat caption media sosial. Tak lupa spot foto disediakan sebagai bentuk memorie , dan yang menarik terdapat tempat playground yang berwarna-warni. Tempat duduk dari kayu dengan payung yang terbuat dari daun kering menambah kecantikan Wisata Kawis. Sedangkan tempat duduk dari bambu juga menjadi tempat yang favorit untuk bercengkrama dengan keluarga atau teman.
Kami sempat menikmati duduk di atas gazebo bambu dengan melihat para pengunjung berlalu lalang. Sembari menikmati pesona alam kami juga bercengkrama dengan Eko Widodo (39), salah satu inisiator wisata yang menjelaskan kepada kami bagaimana bentuk wisata yang dihadirkan oleh Kebon Kawis. Ia menuturkan jika kami menyusuri ke dalam lagi terdapat lahan untuk camping dengan udara yang sejuk akan membuat siapa saja merasa betah.
Wisata Kebon Kawis juga menghadirkan makanan tradisional berupa nasi kawur, ento-ento, gobet, dan sebagainya. Selain makanan Wisata Kebon Kawis juga menghadirkan minuman kopi, jahe, dan kelapa muda sebagai bentuk dari hasil bumi.
Perjalanan Terbentuknya Wisata Bukit Kawis
Kepada kami dalam perbincangan di kebon Kawis, Eko Widodo juga menceritakan bagaimana awal terbentuknya wisata tersebut. Awal mulanya adalah ketika para pemuda dukuh Kambangan yang merantau harus pulang ke kampung halaman karena pandemi Covid-19, mereka merasa bingung karena harus menjadi pengangguran.
![]() |
| Eko Widodo sedang bercengkrama menceritakan awal mula di bentuknya wisata Kebon Kawis. Foto : (Qotrun Nada/Reporter) |
“Pemuda disini kebanyakan merantau, jadi sangat sedikit pemuda yang tersisa. Tetapi ketika kemunculan pandemi Covid-19 para pemuda yang merantau kemudian pulang ke kampung halaman,” ucap Eko Widodo kepada saya di saat duduk bersama di gazebo.
Mata pencaharian sebagai petani, hal itu yang membuat sempitnya lapangan pekerjaan. Dari para pemuda desa kemudian mereka berinisiatif untuk membuat perekonomian daerah dengan potensi alam dan budaya yang ada. Maka terbentuklah sebuah kelompok kecil pemuda yang terfokus pada pengembangan desa.
Pada tahun 2020 menjadi sebuah trend baru pola hidup sehat dengan bersepeda. Eko Widodo menceritakan banyak para pesepeda yang kebingungan mencari tempat transit. Maka melihat masalah tersebut, para pemuda berinisiatif untuk membuat Wisata Kebon Kawis sekaligus mengenalkan potensi Dukuh Kambangan.
Dukuh Kambangan sendiri memiliki kekayaan alam yang melimpah seperti pohon bambu, banyaknya pohon bambu yang tumbuh menjadi insprirasi Hendi Santoso (44), untuk menggunakannya sebagai bahan utama bahkan ciri khas wisata ini.
Dengan hadirnya wisata Kebon Kawis para perajin tangan dari bambu juga dihadirkan untuk pemanfaatan alam dan melatih kreatifitas masyarakat Kambangan. Bambu adalah hasil alam yang melimpah di tanah Kambangan dan memiliki kualitas yang baik, sehingga keberadaan bambu tidak dianggap sebagai tanaman liar, tetapi sebagai tanaman penghasil pundi-pundi rupiah. Contoh kerajinan bambu adalah lampu tidur, souvenir, perabot, dan lain sebagainya. Tak hanya itu, mereka juga menjual kerajinan tas dari bahan bekas yang didaur ulang.
“Bambu di Dukuh Kambangan sangatlah melimpah sehingga kita sebagai pemuda haruslah mampu mengolahnya menjadi barang yang bernilai. Kalau di Kebon Kawis itu adalah lampu tidur, souvenir, dan perabot yang terbuat dari bambu. Dan satu lagi ada kerajinan tas dari bahan daur ulang” tutur Hendi Santoso kepada kami disela-sela jam istirahat dengan duduk bersila di bawah pohon.
Jambu Citra primadona Kebon Kawis Kambangan
Saat menyusuri perjalanan menuju Kebon Kawis, kami juga menemukan perkebunan disepanjang jalan yang terdapat pohon jambu yang sedang berbuah lebat sebagai potensi perekonimian warga. Dimana Jambu Citra merupakan buah khas dari Dusun Kambangan dan juga sumber ekonomi warga setempat.
Sukirlan (43) salah satu pemilik dan pembudidaya Jambu Citra di wilayah tersebut. Sudah sekitar 5 tahun beliau merintis budidaya jambu tersebut. Ia menuturkan buah Jambu Citra memiliki daya tarik sendiri yaitu rasa yang manis, buah yang besar, dan lebih merah ketimbang jambu jenis lainnya. Jambu jenis ini cocok dibudidayakan di daratan tinggi dan sejuk seperti wilayah ini. Perawatan Jambu Citra terbilang sulit, karena biaya perawatan baik kesuluruhan pupuk dan petistida dibutuhkan untuk mencegah serangan hama.
Perbincangan kami dengan Sukirlan yang menceritakan bahwa pemasaran Jambu Citra ini telah sampai pada luar pulau Jawa yaitu Jakarta, Bali, dan Sumatera. Hal itu juga yang menjadikan jambu citra bisa mengangkat potensi Dukuh Kambangan.
“Untuk pemasaran kita sudah sampai luar kota, yaitu Jakarta, Bali, dan Sumatera” ucapan Sukirlan saat duduk istirahat siang di Kebon Kawis.
Hingga saat ini, budidaya jambu citra masih tetap dilakukan, sehingga menjadi produsen jambu terbesar dari wilayah kudus. Jambu Citra juga menjadi oleh-oleh yang bisa dibawa oleh wisatawan yang berkunjung ke Desa Menawan.
Reporter : Nad


Komentar
Posting Komentar